KHITAN - SUCI YANG MENJAGA
Khitan,
bukan sekadar luka kecil yang sembuh.
Bukan sekadar tradisi.
Ia syariat.
Ia cinta Allah pada tubuh hamba-Nya.
Satu-satunya manusia paling beruntung dalam khitan
adalah junjungan kita, Nabi Muhammad SAW.
Beliau tidak dikhitan oleh manusia,
tapi dimuliakan langsung,
dikhitan oleh Malaikat.
Betapa sucinya syariat ini, hingga langit pun turun tangan.
Hikmahnya bukan satu.
Tapi banyak, seluas kasih Allah.
Khitan adalah bersuci.
Bukan hanya mencuci kulit,
tapi mencuci diri.
Tadzkiyatun _nufus
membersihkan nafsu, membersihkan jiwa.
Karena Rasulullah telah mengingatkan,
muara hidup manusia itu ada pada dua perkara
: urusan perut dan di bawah perut — farji.
Jika keduanya bersih, terjaga, suci,
maka selamatlah jiwa dan raganya.
Jika keduanya kotor, liar, tak terkendali,
maka binasalah akal dan agamanya.
Di sanalah khitan menjaga kita.
Menjaga kebersihan,
menjaga kesehatan,
menjaga kehormatan,
menjaga agar sholat kita sah, doa kita bersih,
tubuh kita layak menghadap Allah.
Wahai anak-anakku generasi muslim,
Semoga dengan khitan ini,
kalian tidak hanya menjadi anak yang sehat raganya,
tapi juga selamat jiwanya.
Menjadi pribadi yang bersih lahir batinnya,
yang menjaga perutnya dari yang haram,
yang menjaga farjinya dari yang tidak halal.
: sebab di situlah pangkal keselamatan.
Semoga luka kecil hari ini,
menjadi kesucian panjang seumur hidup.
Menjadi tanda bahwa kalian telah berserah,
telah taat,
telah menjadi muslim seutuhnya.
Sehat raganya, suci jiwanya.
(Diikutip dari tausiyah dalam Walimatul Khitan oleh: KH. Alamul Huda Masyhur - Sumbertlaseh, 5 Rabiul Akhir 1448 H./16 September 2026 M.)













.jpeg)


























