Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat makna tersebut menjadi momentum mempererat hubungan antara para ulama, pemerintah, aparat keamanan, serta berbagai elemen organisasi kemasyarakatan Islam dalam rangka memperkuat komitmen bersama membangun Kabupaten Bojonegoro yang lebih baik.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bojonegoro beserta jajaran pengurus, unsur Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Kepolisian Resor Bojonegoro, Kementerian Agama, serta perwakilan berbagai organisasi Islam, termasuk Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
Mengusung tema “Meningkatkan Sinergi untuk Bojonegoro Bahagia, Makmur, dan Membanggakan”, forum ini tidak sekadar menjadi ajang halal bihalal pasca Hari Raya Idulfitri, tetapi juga menjadi ruang dialog strategis untuk merespons berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ulama sebagai Pelayan Umat dan Mitra Pemerintah
Dalam sambutannya, Ketua MUI Kabupaten Bojonegoro, KH. Alamul Huda Masyhur, menegaskan bahwa MUI memiliki peran yang sangat strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurut beliau, MUI memiliki fungsi himayatul ummah, yakni menjaga umat, sekaligus khadimul ummah, yaitu melayani dan membersamai umat dalam berbagai persoalan kehidupan. Selain itu, MUI juga menjalankan peran sebagai shadiqul hukumah, mitra pemerintah yang memberikan dukungan, masukan, serta kritik yang konstruktif demi kemaslahatan masyarakat.
“Ulama harus hadir di tengah umat, mendengarkan aspirasi masyarakat, sekaligus memberikan pandangan yang menyejukkan dan solutif. Dalam hubungan dengan pemerintah, MUI akan terus menjadi mitra yang memberikan masukan positif demi terciptanya pembangunan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peran ulama tidak hanya terbatas pada mimbar dakwah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial dan mengawal arah pembangunan daerah.
Tantangan Zaman Menuntut Kolaborasi yang Lebih Kuat
Mewakili Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Kusnandaka menyampaikan pentingnya merumuskan langkah-langkah konkret untuk mewujudkan visi Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan.
Menurutnya, cita-cita besar tersebut harus diterjemahkan ke dalam program-program yang nyata, terukur, dan mampu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia juga menyoroti perubahan sosial yang terjadi begitu cepat akibat perkembangan teknologi digital. Kondisi tersebut menuntut seluruh elemen masyarakat, termasuk para ulama, untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman kehidupan.
“Dalam mengikuti perkembangan zaman, kita harus mampu mengikuti arus perubahan, tetapi tidak boleh terbawa arus,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai moral, agama, dan budaya agar masyarakat tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi.
Ancaman Kriminalitas dan Tantangan Moral Generasi Muda
Dalam kesempatan yang sama, Kapolres Bojonegoro, AKBP Afrian Satya Permadi, memaparkan sejumlah tantangan yang saat ini dihadapi masyarakat. Salah satunya adalah meningkatnya angka kriminalitas pada triwulan pertama tahun 2026.
Menurutnya, peningkatan tersebut tidak dapat dilepaskan dari berbagai persoalan sosial yang berkembang, seperti maraknya praktik judi online, pinjaman online ilegal, penyalahgunaan narkoba, hingga peredaran minuman keras yang semakin mudah diakses melalui media digital.
Fenomena tersebut menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda.
Oleh karena itu, Kapolres menegaskan pentingnya kerja sama antara pemerintah, aparat keamanan, ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh komponen bangsa untuk memperkuat benteng moral masyarakat.
“Pencegahan tidak cukup dilakukan oleh aparat penegak hukum saja. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk para ulama, dalam memberikan edukasi dan pembinaan kepada generasi muda,” tegasnya.
Menyiapkan Penguatan Organisasi Hingga Tingkat Kecamatan
Sementara itu, Sekretaris MUI Kabupaten Bojonegoro, Ali Musthofa, mengungkapkan bahwa MUI Bojonegoro tengah mempersiapkan langkah strategis untuk memperkuat organisasi hingga tingkat kecamatan.
Salah satunya melalui pelaksanaan musyawarah MUI kecamatan yang akan difasilitasi pemerintah kecamatan dan berkoordinasi dengan Kementerian Agama melalui Kantor Urusan Agama (KUA).
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat peran MUI di tingkat akar rumput sehingga pembinaan umat, pelayanan keagamaan, dan penguatan moderasi beragama dapat berjalan lebih efektif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Menjaga Bojonegoro Tetap Harmonis dan Membanggakan
Kegiatan Silaturahim Ulama dan Umara’ ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ulama, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat merupakan modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Di tengah perubahan sosial yang begitu cepat, kebersamaan dan komunikasi yang baik menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas sosial, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta mewujudkan masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera.
Lebih dari sekadar acara seremonial, pertemuan ini menghadirkan harapan bahwa sinergi yang terbangun akan terus berlanjut dalam bentuk langkah-langkah nyata untuk kemajuan daerah. Sebab ketika ulama dan umara’ berjalan beriringan, maka ikhtiar mewujudkan Bojonegoro yang bahagia, makmur, dan membanggakan bukan sekadar cita-cita, melainkan tujuan yang semakin dekat untuk diwujudkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar